Ada lagi yang datang...ada lagi yang mengisi hatiku dan mewarnai hariku...
Entahlah, apa bisa aku pastikan ini yang terakhir... The One... The Right One... I hope so...
Tapi dia cuek..yaaa, kadang-kadang perhatian juga sih...walaupun keseringan cueknya...
Jujur, aku ngga berani menaruh harapan...masih trauma sama kejadian sebelumnya.
Masih belum bisa juga menaruh kepercayaan yang besar sama dia...
Tapi aku nggak mau stuck sama trauma masa lalu..aku mau move on...
Makanya aku mulai lagi sama dia.
Dia. Ya, dia. Aku panggil dia 'Mas'. Masku.
Masku hanya orang biasa. Seorang pekerja di sebuah perusahaan alat kesehatan yang namanya pun aku belum hafal sampai sekarang. Aku kenal dengan Masku lewat sebuah situs pertemanan. Gambling. Itu yang ada di benakku ketika memulai petualangan di dunia maya. Sebenarnya ada ketakutan di wilayah itu...yah, seperti banyak orang tahu, di jaman edan seperti sekarang ini sangat riskan berkenalan dengan orang asing lewat sebuah situs pertemanan. Dan entah apa yang membuatku menyetujui ketika Masku mengajak kopi darat. Ketemuan. Hanya Masku satu-satunya teman di situs pertemanan itu yang aku lanjutkan dengan ber'kopi darat'. Entah apa yang ada di pikiranku saat itu, yang jelas aku hanya yakin bahwa Allah SWT akan selalu menjagaku.
Pertemuan demi pertemuan terus terjadi sampai akhirnya kami semakin dekat. Dan akhirnya jadilah dia 'Masku'. Seingatku sudah 3 bulan sejak pertemuan pertama. Tapi sampai sekarang Masku masih belum mau datang ke rumah. Alasannya cuma 1, minder sama orangtuaku. Masku merasa dia belum pantas datang ke rumah, karena dia bukan apa-apa. Hanya laki-laki biasa bermotor, lulusan SMA yang kuliahnya putus di tengah jalan, dan sampai kini belum punya apa-apa. Yang aku katakan padanya hanya 1 juga, selama alasannya datang ke rumah adalah karena dia sayang sama aku, orangtuaku pasti akan menerimanya. Orangtuaku nggak sepicik itu. Tapi entahlah, Masku masih belum juga datang ke rumah. Setiap pertemuan selalu kami lakukan di luar rumah. Aku selalu katakan padanya, sebelum dia setuju untuk datang ke rumah, aku masih akan menyembunyikan hubungan kami dari orangtuaku. Aku hanya nggak ingin mereka khawatir dan ikut kecewa seperti kejadian yang lalu.
Aku semakin sayang sama Masku itu. Semoga Allat SWT segera menunjukkan jawaban atas semua ini. Jika kami memang berjodoh, tolong lancarkanlah jalan kami menuju ridhoMu di dunia dan akhiratMu ya Allah. Jika kami tidak berjodoh, tolong pertemukan kami segera dengan jodoh kami masing-masing. Aamiin.
Kamis, 05 April 2012
Senin, 16 Januari 2012
Who Do You Love?
Aku mulai lagi coretan hati di bulan pertama tahun ini. Terinspirasi dari kisah nyata seorang teman, dan karena ketika aku menulis sekarang, aku ditemani lagu Who Do You Love-nya The Moffatts (band favoritku sejak ABeGe dulu sampai sekarang, hehehe).
Apa yang ada dibenakmu ketika kamu mendengar kata "mendua" atau "selingkuh"?
Egois kah? Ga adil kah? Menantang kah? Seru kah? Terserah! Bebas tanpa syarat.
Apapun pendapatmu untuk mewakili perasaanmu terhadap kedua kata itu, semua sah-sah saja.
Buat aku, kedua kata itu memaknai kebahagiaan karena ego terpenuhi, seiring dengan menyakiti banyak pihak yang terlibat.
Semua yang terjadi di dalam hidup ini adalah pilihan kawan. Pilih apa yang kau anggap benar, sekalipun itu bukan kebenaran di mata orang lain. Lakukan dan hadapi semua yang ada dihadapan. Tidak ada yang salah dengan itu. Toh pada akhirnya nanti, kita pasti akan menuai apapun resiko dari keputusan kita itu kan? Itu namanya pembelajaran dalam hidup.
Hanya saja, pasti ada pro dan kontra atas apa yang kita lakukan. Untuk kasus "mendua" dan "selingkuh" ini, sudah jelas dan pasti akan lebih banyak yang kontra daripada yang pro. Karena kedua kata itu memancarkan aura negatif, tif, tif (-_-!)
Buat aku, ketika kita sampai di kata "mendua" dan "selingkuh", jalan keluarnya mudah saja. Tanya pada hati kita dan hatinya, yaaang paling dalam : Who do you love? Is it him/her or me? Pertanyaan ini harus dijawab dengan lugas dan jelas.
Ga boleh ada jawaban : Aku sayang kamu, tapi aku juga sayang dia, aku ga bisa milih.
Weeew, enak banget tuh! Situ pikir situ siapa? Jangan seenaknya membagi hati! Pada hakikatnya, manusia itu tidak bisa berlaku adil. Like i said before, hidup itu pilihan bro sist, so...make your choice!
Apa yang ada dibenakmu ketika kamu mendengar kata "mendua" atau "selingkuh"?
Egois kah? Ga adil kah? Menantang kah? Seru kah? Terserah! Bebas tanpa syarat.
Apapun pendapatmu untuk mewakili perasaanmu terhadap kedua kata itu, semua sah-sah saja.
Buat aku, kedua kata itu memaknai kebahagiaan karena ego terpenuhi, seiring dengan menyakiti banyak pihak yang terlibat.
Semua yang terjadi di dalam hidup ini adalah pilihan kawan. Pilih apa yang kau anggap benar, sekalipun itu bukan kebenaran di mata orang lain. Lakukan dan hadapi semua yang ada dihadapan. Tidak ada yang salah dengan itu. Toh pada akhirnya nanti, kita pasti akan menuai apapun resiko dari keputusan kita itu kan? Itu namanya pembelajaran dalam hidup.
Hanya saja, pasti ada pro dan kontra atas apa yang kita lakukan. Untuk kasus "mendua" dan "selingkuh" ini, sudah jelas dan pasti akan lebih banyak yang kontra daripada yang pro. Karena kedua kata itu memancarkan aura negatif, tif, tif (-_-!)
Buat aku, ketika kita sampai di kata "mendua" dan "selingkuh", jalan keluarnya mudah saja. Tanya pada hati kita dan hatinya, yaaang paling dalam : Who do you love? Is it him/her or me? Pertanyaan ini harus dijawab dengan lugas dan jelas.
Ga boleh ada jawaban : Aku sayang kamu, tapi aku juga sayang dia, aku ga bisa milih.
Weeew, enak banget tuh! Situ pikir situ siapa? Jangan seenaknya membagi hati! Pada hakikatnya, manusia itu tidak bisa berlaku adil. Like i said before, hidup itu pilihan bro sist, so...make your choice!
Langganan:
Komentar (Atom)